Pengikut

Exodus

Nama saya Zani, saya asli Betawi, saya sekarang kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Bandung. Kejadian ini benar-benar terjadi, dimana saya mendapatkan suatu pengalaman bercinta dengan seorang gadis tetapi sudah bersuami.

Pada bulan Januari, tepatnya setelah malam tahun baru hati saya sangat berbahagia sekali. Ada teman saya membawa suatu tim tugas belajar dari Malaysia yang dikirim untuk kuliah di kampus tempat saya kuliah. Di situ saya melihat ada enam orang (3 lelaki 
dan 3 wanita) yang sudah pasti akan masuk kuliah di kampus saya karena sudah lulus mengikuti tes masuk perguruan tinggi di tempat asal mereka, saya nanya yang itu namanya siapa (Soraya, Reza & Faiza jawab teman saya, umurnya baru 25-an tahun) Seperti biasa hati saya tergugah untuk menolong mereka selama masa Ospek sampai mereka mendapat rumah kontrakan (tempat kost).
Waktu saya pertama kali kenalan dengan mereka, mereka orangnya sangat baik, ada yang suka bercanda, ada yang hatinya sedih, ada yang gelisah dan lain sebagainya. Tetapi di antara enam orang ini disitu saya melihat ada 1 orang wanita (khabarnya sudah bersuami) cantik, manis, imut-imut, manja, kalau dibandingkan dengan orang Bandung mungkin saya berani ngomong masih cantik dia, dan wajahnya sangat mirip dengan pacar saya pada waktu saya SMA.
Pada kesempatan kenalan pertama dengan dia, saya belum begitu akrab, dan pada hari berikutnya setelah pergi shoping membeli peralatan ospek dia dan juga kawan setimnya, perasaan hati saya timbul rasa manja dan sayang pada dirinya (maklum saya anak pertama). Begitu juga dengan dia (manja, perlu perhatian, setia kawan dan tidak sombong). Kabarnya sih.., dia anak bungsu (wajar aja kalau dia mempunyai sifat manja terhadap kawan yang telah dikenalnya). Nah.., dari situ baru saya tahu bahwa sebenarnya diri saya butuh seorang kakak perempuan yang bisa nasehatin saya, ngomelin saya, dll, selama saya jauh dari orang tua.
Setelah saya ngobrol dengan dia, saya ngomong, "Kakak mau nggak jadi kakak saya..!", emang sih.., banyak kakak-kakak saya selama saya di Bandung, tetapi rata-rata kakak lelaki.
Terus jawabannya, "Kakak sih terserah kamu aja..! yang penting kakak selama di Bandung, selama jauh dari keluarga (baik suami, anak dan orang tua kakak), kalau bisa ada yang memperhatikan kakak, ada yang melindungi kakak, ada yang menyayangi kakak (maaf.. di sini maksudnya sayang seorang adik terhadap kakaknya dan begitu juga sebaliknya), ada yang menasehati kakak dan lain sebagainya". Nah dari situlah saya semakin akrab dengan dia (akrab seorang adik terhadap kakaknya).

Hingga pada suatu sore jam 15.30, saya melihat tingkah laku dia, seakan dia membenci saya. Dia tidak mau nanya, ditegur diam aja, dll. Hati saya sedih sekali dan ada semacam perasaan bersalah terhadap dirinya. Saya berusaha mengoreksi diri saya, perbuatan apakah yang dilakukan oleh saya sehingga dia bisa marah dan benci pada saya. Setelah saya mereka-reka, mungkin aja saya suka bercanda dan terlepas omongan yang menyakiti hatinya, atau selama mengantar mereka waktu pergi sehari sebelum ospek, agaknya kurang memperhatikan dia dan di antara kawannya juga kurang memperhatikannya. Memang sih.., saya menyadari agak kurang memperhatikannya, yang saya perhatikan hanya kepentingan kawannya aja, sementara dia sendiri perlu perhatian dan mungkin juga perlu pertolongan dari seseorang yang telah akrab dengannya.

Akhirnya saya memberanikan diri untuk menegur dia.
"Ada apa sich.., kak.., kok nggak mau negur-negur saya?". Akhirnya dia mau juga ngomong dengan saya.
Begini.., kakak bukannya marah sama kamu, tetapi kakak kesel aja sama kamu, habis seharian jalan sama kamu yang diperhatikan dan yang diajak ngobrol cuma kawan-kawan yang lain saja, sedangkan kakak sendiri perlu teman ngobrol untuk mengisi kekosongan kakak. Begini aja dech.., kita jalan-jalan aja muter-muter kota Bandung, mau nggak..!", ajaknya dengan nada manja. Terus saya ngomong, "Ayo aja asal kakak yang ngongkosin untuk naik angkotnya".

Dan akhirnya saya pergi berdua dengan dia menuju Alun-alun Kota Kembang, sesampainya di sana dan setelah keliling pertokoan yang ada di sepanjang alun-alun saya istirahat di pelataran pertokoan. Di situ saya mengajak dia untuk pulang karena jam sudah menunjukan pukul 22.15 malam. Tetapi apa jawabnya dan juga bikin terkejut saya, "Malam ini kakak nggak mau tidur di rumah, kakak sekarang mau tidur di hotel aja, dan kamu tolong cari hotel yang harganya cukup murah aja nggak usah yang mahal-mahal OK".

Sesampainya di Hotel tersebut, saya makin terkejut soalnya dia memesan kamar cuma satu tapi kasurnya ada dua. Kemudian saya bertanya pada dia (saya mau tidur di mana kak? dengan nada heran), kamu tidur sama kakak saja katanya dengan nada serius. Setelah pembayaran kamar hotel selesai, saya dan dia sama-sama masuk ke kamar. Dalam pikiran saya, gila juga nih anak, baru pertama kenal sudah berani ngajak orang tidur sama-sama dalam satu kamar hotel. Saat saya sedang asyik bengong, saya terkejut oleh suara dia, "We.., saya mau mandi dulu yach.., kalau kamu udah ngantuk matikan aja TV nya".
"Belum ngantuk kok", jawab saya.

Setelah dia masuk ke kamar mandi, dalam pikiran saya timbul niat jahat saya untuk mengintip dia, tetapi apa yang terjadi, tiba-tiba dia memintaku untuk mengambilkan sabun yang tertinggal di dalam tasnya. Akhirnya saya tidak jadi ngintip dia karena terkejut tadi, dan langsung aja saya ambil sabun dari dalam tasnya. Saat saya mau ngasih sabun ke dia, tiba-tiba dia sudah ada di belakang saya dan ya ampun saya melihat seorang wanita cantik tanpa sehelai benang sedikitpun yang tanpa rasa malu atau risih melihat ada saya di depannya. Di situ yang saya lihat sebuah tubuh yang putih bersih dengan gundukan gunung bersama putingnya yang sedikit hitam kecoklatan, dan yang lebih membuat penisku makin tegang, saya melihat sebuah gundukan kecil yang di tumbuhi bulu-bulu halus yang lebat.

Tiba-tiba saya di kejutkan oleh suara dia, "Kenapa bengong aja mana sabun yang Kak Reza suruh ambil?, sambil salah tingkah akhirnya saya kasih sabun yang sejak tadi saya pegang.
"Kok kamu diam aja kenapa heran yach, ngelihat kakak telanjang bulat gini".
"Ach.., nggak", jawab saya malu-malu.
"Kamu mau mandi nggak.., kalau mau bareng Kak Reza aja".
Tanpa basa-basi saya langsung saja bilang mau (dalam hati saya kapan lagi kesempatan seperti ini saya dapatkan), tanpa malu-malu lagi saya langsung melepas pakaian saya satu persatu hingga akhirnya saya telanjang bulat.

Dia langsung terkejut melihat penis saya yang memang sejak tadi sudah tegak, "Ya ampuun.., panjang bener" (sekitar 17 Cm diameter 9 Cm), teriaknya, ini lebih panjang dari punya suami Kak Reza (13 Cm diameter 7 Cm katanya). Lalu ditariknya tangan saya masuk ke dalam kamar mandi. Lalu kami berdua sama-sama mandi memakai shower dan saling menyabuni tubuh masing-masing, karena saya sudah tidak tahan lagi, saya langsung ngomong ke dia, "Kak mau nggak sabunin belakang badan saya".
"Sini", katanya. Lalu di usapkannya sabun ke badan saya, saya merasakan tangan halusnya mengusap bagian belakang badan saya dan setelah bagian belakang selesai, dia mengusap bagian depan badan saya, dia cuek saja saat mengusap penis saya, giliran saya yang gemetar menahan enaknya kepala penis saya dielus-elus oleh tangan halus seorang gadis cantik, akhirnya karena saya tidak tahan lagi saya merasakan ada sesuatu yang mau keluar dari lubang pipis penis saya, dan akhirnya, "Kak uuhh.., saya udah mau keluaarr", dan, "Ahh.., crott.., crett.., aahhg nikmatnya", lalu dia ngomong dengan nada kecewa, "Masa sudah keluar ini kan belum seberapa", katanya, saya diam saja dalam hati saya nih cewek belum merasakan penis saya di ranjang, lihat saja kehebatan saya sebentar lagi, pikirku.

Setelah selesai mandi kita sama-sama belum memakai baju, saya lihat penis saya sudah tegak kembali, saking nafsunya saya peluk dia dari belakang dan saya banting dia ke kasur, tanpa dia ngomong lagi langsung saja saya masukkan penis saya ke lubang vaginanya, saya heran dia menerima dengan pasrah apa yang akan dilakukan saya terhadap dirinya, dan baru saja kepala penisku masuk dia sudah mendesah, "aahh.., ayo lebih dalam lagi huhuy, kakak udah nggak tahan lagi nich". Saya merasakan (meskipun bukan perawan lagi) lubang vaginanya sangat sempit, sampai saya susah sekali memasukkan penis saya ke dalam lubang vaginanya, yang akhirnya penis saya tertelan semua masuk ke dalam vaginanya. Saya goyang naik turun pelan-pelan tapi pasti, makin lama semakin cepat, sampai akhirnya saya merasakan penis saya seperti dipijit-pijit oleh vaginanya, dan semakin lama sepertinya lubang vaginanya semakin sempit saja dan pada akhirnya.., ± 2 menit tiba-tiba dia mengejang dan kaku sambil ngomong, "Zany Kak Reza udah mau.., kelluaarr.., achh", dan akhirnya saya merasakan ada cairan hangat yang menyiram penis saya, "Serr.., serr.., crroot.., aakkhh".
Akhirnya dia lemas seperti tidak bertenaga, lalu saya lepas penisku, dan saya menyuruhnya nungging (Doggy Style), lalu saya masukkan lagi penisku ke vaginanya dan dia menjerit keras sekali, "aauukhh pelan-pelan we, sakit nih", saya cuek saja dan makin saya masukkan penisku ke lubang vaginanya dan akhirnya dia diam saja. Lalu saya goyang semakin cepat, "Ahhkkghh.., nikmatnya Kak.., hh.., ahhk", dan akhirnya dia menjerit lagi dan dia keluar untuk kedua kalinya, "aahhkhg Kak Reza udah nggak tahan lagi aahhkggh", tubuh dia jatuh dan nampak sudah tidak tahan lagi, sementara saya belum keluar, akhirnya saya kasihan juga melihat dia.
Kemudian saya lepas penis saya yang sudah basah oleh cairan air mani Kak Reza, dan saya suruh dia ambil posisi 69. Saya suruh dia mengisap penis saya (saya paling tidak tahan kalau penis saya di hisap oleh cewek, apalagi cewek cantik seperti dia), sambil saya jilati vaginanya, saya hisap clitorisnya yang sejak tadi sudah basah oleh cairan air maninya dan saya merasakan penis saya dijilatin, "Aauukkhgg", saya merasakan nikmatnya penis saya kena lidah dan giginya yang putih bersih, "aakkhh", hingga akhirnya saya merasakan ada yang mau keluar dari lubang penisku dan, "Kak Reza saya udah mauu keluarr.., ahhgghh"
"Keluarin aja, ayo kakak siap kok nerima semburan air mani Zani". Dan, "Ccrroothh.., aahhkhggh". Akhirnya muncratlah air mani saya yang langsung membasahi sabagian wajah Kak Reza, "Aakkhhgghh.., Kak Reza.., akkhhgghh", sambil terus dijilatinnya penisku sampai titik penghabisan.
Puas saya, baru sekarang saya bisa merasakan puas berhubungan intim dengan gadis yang telah mempunyai suami, karena selama ini paling jauh saya melakukan hubungan intim dengan pacar saya yang di Jakarta biasa-biasa saja layaknya suami istri (tanpa ada seni dalam bersenggama). Sambil tiduran tubuh kami basah oleh keringat dan air mani, lalu saya masukkan lagi penis saya dan saya biarkan penis saya di dalam lubang vaginanya hingga akhirnya kami berdua terlelap sampai pagi.

Akhirnya hubungan saya sebagai kakak dan adik terus berlanjut sampai sekarang, dan saya juga sesekali masih berhubungan intim dengan dia dan juga dengan pacar saya yang di Jakarta.
READ MORE - Exodus

Donnyku Sayang Donnyku Malang

Namanya Donny, entahlah itu nama ia sebenarnya atau tidak. Laki-laki yang mengaku umurnya 27 tahun itu memiliki kulit sawo matang dan wajah yang menarik. Untuk laki-laki sebayanya, Donny adalah sosok laki-laki yang unik, ini karena dia sudah kukenal 9 bulan lamanya. Aku memanggilnya Aa karena dia jauh lebih tua umurnya dibanding aku dan karena dia adalah orang Bandung.

Oh ya, perkenalanku dengan Aa dimulai dari seringnya aku menggunakan internet untuk mencari tugas kuliah, sebagian waktuku kadang kusisakan untuk berchating ria. Hitung-hitung mencari sahabat penghilang rasa stress. Dan Aa ini adalah salah satu produk yang sangat mujarab, ibarat obat ia adalah puyer penghilang segala rasa sakit, yang tadinya pikiran suntuk setelah ngobrol dengan Aa semuanya menjadi fress kembali.
Aa bekerja pada sebuah perusahaan BUMN, dan pekerjaannya itu berhubungan dengan dunia internet, aku juga tidak tahu persisnya Aa mengerjakan apa namun yang pasti Aa adalah sosok laki-laki yang kuimpakan, walaupun pada kenyataannya Aa telah bertunangan dengan gadis asal daerahnya.Namun, karena letak perusahaannya amat jauh, mereka hanya bisa bertemu sekali-sekali saja.
Seperti biasanya jam 4 sore aku online, Aa telah menungguku. Beberapa hari ini aku memang jarang sekali OL, karena banyak tugas kuliah yang mesti kuselesaikan. Aa mengatakan kalau dia sangat merindukanku, betapa sepi hari-harinya tanpa aku di sisinya. Ceilee.. itulah rayuan gombal yang sangat kurindukan darinya. Entahlah dengan Aa, aku bisa menjadi sosok seorang wanita yang kompleks, kadang Aa menjadikanku seorang sahabat, adik, teman dan tidak jarang Aabersikap sebagai kekasih. Tapi kebanyakan sih Aa selalu menggodaku. Layaknya laki-laki yang normal, Aa juga kadang suka jahil mengarahkan pembicarAan ke hal-hal yang berbau seks, yang jujur saja bagiku itu amat menantang karena pada Aa, aku bisa mencari jawaban atas pertanyaanku. Dan rasa penasaranku tentang hubungan badan yang akhir-akhir ini kami diskusikan membawaku pada sebuah keinginan untuk merasakan keabsahan cerita Aa. Namun aku hanya bisa menyimpan keinginan itu, karena dalam dunia nyata aku tidak memiliki kekasih. Mungkin karena aku adalah gadis yang sangat tertutup dan tidak mau membuka diri dalam dunia laki-laki. Atau semua ini karena trauma kebencianku pada laki-laki akibat penyelewangan ayahku yang kini menghasilkan seorang bayi yang mungil ditengah keluargaku.

Tepat satu tahun perkenalan kami, aku mendapatkan sebuah undangan dari LSM, dan letak LSM itu dekat dengan kota tempat Aa tinggal. Sengaja aku tidak mengatakan padanya, aku ingin ini menjadi kado bagi pertemuan kami. Setelah sampai di hotel tempatku menginap, aku meneleponnya. Kukatakan padanya aku ingin bertemu, Aa hanya menanggapinya dengan sebuah suara tawa yang meledekku. Namun sebelum Aa menyelesaikan tawanya, aku memberi nomor telepon di hotel tempatku menginap. Tentu saja dia terkejut, kalau saja hari itu tidak ada rapat penting, dia sudah berada di sisiku goda Aa padaku, namun setelah rapatnya selesai dia segera akan ke tempat hotelku menginap.

Jam tujuh malam, aku menunggunya di lobby. Untung saja kawan-kawanku di LSM sudah selesai merapatkan seminar yang akan kami gelar esok lusa. Dengan bermodalkan photo yang dia berikan padaku, aku melihat satu persatu tamu yang memasuki hotel, namun sampai jam delapan malam, Aa tidak datang. Jangankan batang hidungnya, telepon saja tidak kuterima. Tentu saja aku kecewa, kukira Aa adalah orang yang suka menepati kata-kata, tapi toh apa kenyataannya, pelan-pelan kecurigaan muncul di benakku, mungkinkah semua ini cuma sekedar permainan orang iseng, atau photo yang diberikan Aa padaku bukanlah Aa yang sebenarnya. Ah.. pikiranku kacau.

Jam 8:30 malam aku meninggalkan hotel. Aku menitipkan pesan kepada resepsionis bahwa kalau ada yang mencariku, aku sedang berjalan-jalan di pantai. Hembusan angin malam membuatku agak mengigil, namun toh ini semua tidak sedingin hatiku saat ini. Kubirkan rambut panjangku tergerai di mainkan sang bayu, kutatap bintang pada cakrawala yang hitam di atas mega, malam ini begitu indah dan syahdu dan jilatan-jilatan air laut pada kakiku memberikan kesan yang segar.

"Maaf.. apakah anda yang bernama Valencia?" sebuah suara mengagetkan dan menjajari langkahku.
"Hmm.. iya benar?" jawabku ragu-ragu.
"Maaf anda siapa yah..?" tanyaku penuh selidik.
"Masa dengan suara Aa kamu lupa Val..?" sahutnya kalem diiringi sebuah derai tawa.
Ya ampun.. seketika itu kupeluk Aa. Air mataku meleleh. Di dekapnya kepalaku erat-erat. Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kemeja Aa. Dilepaskannya pelukanku, jemarinya menghapus air mataku.

"Valen menangis?" tanyanya retoris.
Aku mengangguk, ya aku menangis.. tangis bahagia.
"Kenapa baru tadi sore sih kamu telepon Aa ke kantor, lagian mo ke sini nggak bilang-bilang?" protes Aa.
"Biarin.. nanti gak surprise lagi," kataku.

Dan pandangan kami bertemu. Wajah Aa yang tegas, dengan mata elang serta alis yang tajam dan sebuah bibir yang merah menantang, kelihatan berseri-seri. Beberapa saat kami saling meneliti lekuk tubuh masing-masing.

"Kamu terlihat begitu cantik Val, tidak sama seperti yang di photo yang kamu kirimkan!" Aa menggodaku perlahan. Semburat rona merah akibat rasa malu yang melandaku tak bisa kutahan. Kucubit lengan Aa mesra.
"Tapi kok kamu nggak nungguin Aa di loby sih, malah melarikan diri ke sini, takut yah ama Aa." Aa melingkarkan tangannya ke pinggangku.
"Ihh nggak lagi.. lagian Aa kenapa malam banget sih baru datang ke sini?" rajukku kesal.
"Ya lah Val, kantor Aa kan jauh dari sini, lagian Aa kan musti beres-beres dulu mau ketemu bidadari cantik kayak kamu.." Aa mulai merayu. Aku tersenyum.
"Lagian kamu kok nggak bisa ngenalin suara Aa sih tadi.. Pura-pura yah." Aa menggodaku lagi.
Kucubit laki-laki jangkung di depanku.
"Maklum lah Aa.. disini kan samar-samar jadi nggak kelihatan jelas!" rajukku manja.
"Hehe bukannya remang-remang gini malah tambah asyik!" goda Aa sekali lagi.
"Emang sih, cuma Valen takut..?"
"Loh kok takut Val, Aa nggak gigit kok?!"
"Yah Aa nggak gigit cuma Aa ngesun aja dikit."
Kami tertawa bersama-sama. Dan yang membuatku bahagia Aa bisa membuat aku bahagia malam ini dengan obrolan-obrolannya yang lucu namun tetap memiliki style yang unik.

Malam itu kami merayakan pertemuan kami di pub, aku yang belum pernah minum-minuman kelas tinggi harus menerima juga, bukan apa-apa, aku ingin jaga gengsi saja, bukannya aku tidak ingin dikatakan gadis kampungan yang cara berpikirnya kolot.

Alhasil.. aku tidak bisa pulang ke kamarku sendirian. Aa membawaku ke kamar dengan memelukkuerat. Dibaringkannya tubuhku di ranjang itu. Aa segera melepaskan sepatuku dan menyelimutiku. Walaupun setengah pusing, aku bisa merasakan kecupan bibir Aa yang basah di keningku.

"Aa disini aja yah, Valen takut?!" ucapku lirih dan kugengam tangannya.
"Iya.. Aa disini kok, Valen tiduran aja yah? pintanya lembut.
Kurasakan jari-jemari Aa meremas jemariku, lembut dan hangat. Pelan-pelan kubawa jari-jemari Aa ke bibirku dan menciumnya lembut.
"Terima kasih yah A.. untuk malam yang terindah bagi Valen?" ucapku serak.
Aa tidak menjawabnya sebagai gantinya Aa malah memberikan ciuman pada bibirku. Ciuman itu lembut sekali, basah dan begitu manis. Tentu saja aku gelapan saat pertama mendapatkan serangan mendadak itu, namun pelan-pelan kunikati ciuman Aa. Perlahan-lahan Aa menurunkan ciumannya, dari bibir Aa terus turun ke leher dan aku hanya mengerang kecil. Perasaanku jadi tidak karuan, apalagi setelah lidah Aa mendarat di putingku, kurasakan sensasi yang sangat indah dan nikmat, "Ohh Aa.. ohh.. hemm.." aku mendesah keenakan.

Kurasakan Aa berhenti menciumiku, entahlah aku tidak tahu apa yang dilakukannya karena mataku sagat berat untuk kubuka, namun sejurus kemudian Aa telah mengulangi ciumannya, kali ini Aa melepas bajuku hingga tidak ada sehelai benangpun menempel di tubuhku. Tentu saja aku gelapan apalagi lidah Aa sudah berada di dalam daerah vitalku. Dengan lidahnya dia memilin-milin klitorisku dan menyedot cairan mani yang keluar dari vaginaku hingga kering, aku hanya bisa meremas bantal di sampingku untuk mereda sensasi yang ditimbulkan pada setiap gerakan lidah Aa, apalagi lidah Aa sangatlah panjang dan lembut serta basah. Setiap gerakannya merupakan sensasi yang dahsyat. Aku hanya bisa mengerang sementara Aa sibuk memberi pelayanan bagiku.

"Aa sekarang A.. Valen udah nggak tahan lagi?!" pintaku parau pada Aa.
"Boleh.." katanya disetai dengan desakan sebuah benda yang cukup keras pada liang kewanitaanku. Walapun aku sudah melebarkan kakiku lebar-lebar namun Aa tak bisa menembus liang kewanitaanku dengan barangnya. Namun dengan sebuah hentakan yang keras, disertai rasa perih yang hebat, Aa berhasil menebus dinding selaput daraku.

"Ooohh.. sakit A.." jeritku keras. Rasanya beribu-ribu silet menyayat dinding vaginaku. Aa terdiam sebentar. Dihentikannya gerakan memasukkan barangnya ke dalam liang vaginaku. Dialihkannya gerakannya pada bibirku, pelan-pelan bibirku dikulum dengan lidahnya dia beraksi menguragi rasa sakitku. Setelah ciuman kami berlangsung cukup lama, Aa kembali menggoyangkan pantatnya dan melakukan gerakan maju mundur, walaupun sakit namun kurasakan sensasi yanglain, ada perasaan geli, nikmat dan perih bercampur jadi satu pada gerakan Aa.
Beberapa menit kemudian Aa mempercepat gerakannya, dan kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan ketika Aa dengan erat memelukku. Kurasakan badan Aa bergetar di dalam pelukaku, nafasnya memburu cepat, dan sebuah sunggingan senyum puas terlihat di sudut bibir merah Aa. Ternyata keindahan yang kurasakan tidaklah dapat diukir dengan kata-kata.
Setelah kejadian itu, Aku pulang ke kotaku dan pada bulan berikutnya Aa melamarku. Namun aku tidak menginginkan keterikatan dengannya. Aa bukanlah pangeran impianku, pada dirinya aku hanya bisa menemukan nafsuku, bukan cinta yang selama ini yang kucari, walapun begitu aku berterima kasih padanya karena telah mengenalkanku pada sebuah dunia yang indah dan penuh dengan rangkaian kenikmatan.

READ MORE - Donnyku Sayang Donnyku Malang

Dokter Jaga

San.. hei aku jaga nich malam ini, elu jangan kirim pasien yang aneh-aneh ya, aku mau bobo, begitu pesanku ketika terdengar telepon di ujung sana diangkat.
"Udah makan belum?" suara merdu di seberang sana menyahut.
"Cie.. illee, perhatian nich", aku menyambung dan, "Bodo ach", lalu terdengar tuutt.. tuutt.. tuut, rupanya telepon di sana sudah ditutup.
Malam ini aku dapat giliran jaga di bangsal bedah sedangkan di UGD alias Unit Gawat Darurat ada dr. Sandra yang jaga. Nah, UGD kalau sudah malam begini jadi pintu gerbang, jadi seluruh pasien akan masuk via UGD, nanti baru dibagi-bagi atau diputuskan oleh dokter jaga akan dikirim ke bagian mana para pasien yang perlu dirawat itu.

Syukur-syukur sih bisa ditangani langsung di UGD, jadi tidak perlu merepotkan dokter bangsal. dr. Sandra sendiri harus aku akui dia 
cukup terampil dan pandai juga, masih sangat muda sekitar 28 tahun, cantik menurutku, tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm dengan bodi sedang ideal, kulitnya putih dengan rambut sebahu. Sifatnya cukup pendiam, kalau bicara tenang seakan memberikan kesan sabar tapi yang sering rekan sejawat jumpai yaitu ketus dan judes apalagi kalau lagi moodnya jelek sekali. Celakanya yang sering ditunjukkan, ya seperti itu. Gara-gara itu barangkali, sampai sekarang dia masih single. Cuma dengar-dengar saja belakangan ini dia lagi punya hubungan khusus dengan dr. Anton tapi aku juga tidak pasti.

Kira-kira jam 2 pagi, kamar jaga aku diketuk dengan cukup keras juga.
"Siapa?" tanyaku masih agak malas untuk bangun, sepet benar nih mata.
"Dok, ditunggu di UGD ada pasien konsul", suara dibalik pintu itu menyahut, oh suster Lena rupanya.
"Ya", sahutku sejurus kemudian.

Sampe di UGD kulihat ada beberapa pria di dalam ruang UGD dan sayup-sayup terdengar suara rintihan halus dari ranjang periksa di ujung sana, sempat kulihat sepintas seorang pria tergeletak di sana tapi belum sempat kulihat lebih jelas ketika dr. Sandra menyongsongku, "Fran, pasien ini jari telunjuk kanannya masuk ke mesin, parah, baru setengah jam sih, tensi oke, menurutku sih amputasi (dipotong, gitu maksudnya), gimana menurut elu?" demikian resume singkat yang diberikan olehnya.

"San, elu makin cantik aja", pujiku sebelum meraih status pasien yang diberikannya padaku dan ketika aku berjalan menuju ke tempat pasien itu, sebuah cubitan keras mampir di pinggangku, sambil dr. Sandra mengiringi langkahku sehingga tidak terlalu lihat apa yang dia lakukan. Sakit juga nih.

Saat kulihat, pasien itu memang parah sekali, boleh dibilang hampir putus dan yang tertinggal cuma sedikit daging dan kulit saja.
"Dok, tolong dok.. jangan dipotong", pintanya kepadaku memelas.
Akhirnya aku panggil itu si Om gendut, bosnya barangkali dan seorang rekan kerjanya untuk mendekat dan aku berikan pengertian ke mereka semua.
"Siapa nama Bapak?" begitu aku memulai percakapan sambil melirik ke status untuk memastikan bahwa status yang kupegang memang punya pasien ini.
"Praptono", sahutnya lemah.

"Begini Pak Prap, saya mengerti keadaan Bapak dan saya akan berusaha untuk mempertahankan jari Bapak, namun hal ini tidak mungkin dilakukan karena yang tersisa hanya sedikit daging dan kulit saja sehingga tidak ada lagi pembuluh darah yang mengalir sampai ke ujung jari. Bila saya jahit dan sambungkan, itu hanya untuk sementara mungkin sekitar 2 - 4 hari setelah itu jari ini akan membusuk dan mau tidak mau pada akhirnya harus dibuang juga, jadi dikerjakan 2 kali. Kalau sekarang kita lakukan hanya butuh 1 kali pengerjaan dengan hasil akhir yang lebih baik, saya akan berusaha untuk seminimal mungkin membuang jaringannya dan pada penyembuhannya nanti diharapkan lebih cepat karena lukanya rapih dan tidak compang-camping seperti ini", begitu penjelasan aku pada mereka.

Kira - kira seperempat jam kubutuhkan waktu untuk meyakinkan mereka akan tindakan yang akan kita lakukan. Setelah semuanya oke, aku minta dr. Sandra untuk menyiapkan dokumennya termasuk surat persetujuan tindakan medik dan pengurusan untuk rawat inapnya, sementara aku siapkan peralatannya dibantu oleh suster-suster dinas di UGD.

"San, elu mau jadi operatornya?" tanyaku setelah semuanya siap.
"Ehm.. aku jadi asisten elu aja deh", jawabnya setelah terdiam sejenak.

Entah kenapa ruangan UGD ini walaupun ber-AC tetap saja aku merasa panas sehingga butir-butir keringat yang sebesar jagung bercucuran keluar terutama dari dahi dan hidung yang mengalir hingga ke leher saat aku kerja itu. Untung Sandra mengamati hal ini dan sebagai asisten dia cepat tanggap dan berulang kali dia menyeka keringatku. Huh.. aku suka sekali waktu dia menyeka keringatku, soalnya wajahku dan wajahnya begitu dekat sehingga aku juga bisa mencium wangi tubuhnya yang begitu menggoda, lebih-lebih rambutnya yang sebahu dia gelung ke atas sehingga tampak lehernya yang putih berjenjang dan tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Benar-benar menggoda iman dan harapan.

Setengah jam kemudian selesai sudah tugasku, tinggal jahit untuk menutup luka yang kuserahkan pada dr. Sandra. Setelah itu kulepaskan sarung tangan sedikit terburu-buru, terus cuci tangan di wastafel yang ada dan segera masuk ke kamar jaga UGD untuk pipis. Ini yang membuat aku tidak tahan dari tadi ingin pipis. Daripada aku mesti lari ke bangsal bedah yang cukup jauh atau keluar UGD di ujung lorong sana juga ada toilet, lebih baik aku pilih di kamar dokter jaga UGD ini, lagi pula rasanya lebih bersih.

Saat kubuka pintu toilet (hendak keluar toilet), "Ooopss.." terdengar jeritan kecil halus dan kulihat dr. Sandra masih sibuk berusaha menutupi tubuh bagian atasnya dengan kaos yang dipegangnya.
"Ngapain lu di sini?" tanyanya ketus.
"Aku habis pipis nih, elu juga kok nggak periksa-periksa dulu terus ngapain elu buka baju?" tanyaku tak mau disalahkan begitu saja.
"Ya, udah keluar sana", suaranya sudah lebih lembut seraya bergerak ke balik pintu biar tidak kelihatan dari luar saat kubuka pintu nanti.

Ketika aku sampai di pintu, kulihat dr. Sandra tertunduk dan.. ya ampun.. pundaknya yang putih halus terlihat sampai dengan ke pangkal lengannya, "San, pundak elu bagus", bisikku dekat telinganya dan semburat merah muda segera menjalar di wajahnya dan ia masih tertunduk yang menimbulkan keberanianku untuk mengecup pundaknya perlahan. Ia tetap terdiam dan segera kulanjutkan dengan menjilat sepanjang pundaknya hingga ke pangkal leher dekat tengkuknya. Kupegang lengannya, sempat tersentuh kaos yang dipegangnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya dan terasa agak lembab. Rupanya itu alasannya dia membuka kaosnya untuk menggantinya dengan yang baru. Berkeringat juga rupanya tadi.

Perlahan kubalikkan tubuhnya dan segera tampak punggungnya yang putih mulus, halus dan kurengkuh tubuhnya dan kembali lidahku bermain lincah di pundak dan punggungnya hingga ke tengkuknya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan kusapu dengan lidahku yang basah. "Aaacch.. ach.." desahnya yang pertama dan disusul dengan jeritan kecil tertahan dilontarkannya ketika kugigit urat lehernya dengan gemas dan tubuhnya sedikit mengejang kaku. Kuraba pangkal lengannya hingga ke siku dan dengan sedikit tekanan kuusahakan untuk meluruskannya sikunya yang secara otomatis menarik kaos yang dipegangnya ikut turun ke bawah dan dari belakang pundaknya itu.

Kulihat dua buah gundukan bukit yang tidak terlalu besar tapi sangat menantang dan pada bukit yang sebelah kanan tampak tonjolannya yang masih berwarna merah dadu sedangkan yang sebelah kiri tak terlihat. Kusedot kembali urat lehernya dan ia menjerit tertahan, "Aach.. ach.. sshh", tubuhnya pun kurasakan semakin lemas oleh karena semakin berat aku menahannya.

Dengan tetap dalam dekapan, kubimbing dr. Sandra menuju ke ranjang yang ada dan perlahan kurebahkan dia, matanya masih terpejam dengan guratan nikmat terhias di senyum tipisnya, dan secara refleks tangannya bergerak menutupi buah dadanya. Kubaringkan tubuhku sendiri di sampingnya dengan tangan kiri menyangga beban tubuh, sedangkan tangan kanan mengusap lembut alis matanya terus turun ke pangkal hidung, mengitari bibir terus turun ke bawah dagu dan berakhir di ujung liang telinganya.

Senyum tipis terus menghias wajahnya dan berakhir dengan desahan halus disertai terbukanya bibir ranum itu. "Ssshh.. acchh.." Kusentuhkan bibirku sendiri ke bibirnya dan segera kami saling berpagutan penuh nafsu. Kuteroboskan lidahku memasuki mulut dan mencari lidahnya untuk saling bergesekan kemudian kugesekan lidahku ke langit-langit mulutnya, sementara tangan kananku kembali menelusuri lekuk wajahnya, leher dan terus turun menyusuri lembah bukit, kudorong tangan kanannya ke bawah dan kukitari putingnya yang menonjol itu. Lima sampai tujuh kali putaran dan putingnya semakin mengeras. Kulepaskan ciumanku dan kualihkan ke dagunya. Sandra memberikan leher bagian depannya dan kusapu lehernya dengan lidahku terus turun dan menyusuri tulang dadanya perlahan kutarik tangannya yang kiri yang masih menutupi bukitnya. Tampak kini dengan jelas kedua puting susunya masih berwarna merah dadu tapi yang kiri masih tenggelam dalam gundukan bukit. Feeling-ku, belum pernah ada yang menyentuh itu sebelumnya.

Kujilat tepat di area puting kirinya yang masih terpendam malu itu pada jilatan yang kelima atau keenam, aku lupa. Puting itu mulai menampakkan dirinya dengan malu-malu dan segera kutangkap dengan lidah dan kutekankan di gigi bagian atas, "Ach.. ach.. ach.." suara desisnya semakin menjadi dan kali ini tangannya juga mulai aktif memberikan perlawanan dengan mengusap rambut dan punggungku. Sambil terus memainkan kedua buah payudaranya tanganku mulai menjelajah area yang baru turun ke bawah melalui jalur tengah terus dan terus menembus batas atas celana panjangnya sedikit tekanan dan kembali meluncur ke bawah menerobos karet celana dalamnya perlahan turun sedikit dan segera tersentuh bulu-bulu yang sedikit lebih kasar. "Eeehhm.. ech.." tidak diteruskan tapi bergerak kembali naik menyusuri lipatan celana panjangnya dan sampai pada area pinggulnya dan segera kutekan dengan agak keras dan mantap, "Ach.." pekiknya kecil pendek seraya bergerak sedikit liar dan mengangkat pantat dan pinggulnya.

Segera kutekan kembali lagi pinggul ini tapi kali ini kulakukan keduanya kanan dan kiri dan, "Fran.. ugh.." teriaknya tertahan. Aku kaget juga, itu kan artinya Sandra sadar siapa yang mencumbunya dan itu juga berarti dia memang memberikan kesempatan itu untukku. Matanya masih terpejam hanya-hanya kadang terbuka. Kutarik restleting celananya dan kutarik celana itu turun. Mudah, oleh karena Sandra memang menginginkannya juga, sehingga gerakan yang dilakukannya sangat membantu. Tungkainya sangat proporsional, kencang, putih mulus, tentu dia merawatnya dengan baik juga oleh karena dia juga kan berasal dari keluarga kaya, kalau tidak salah bapaknya salah satu pejabat tinggi di bea cukai. Kuraba paha bagian dalamnya turun ke bawah betis, terus turun hingga punggung kaki dan secara tak terduga Sandra meronta dan terduduk, dengan nafas memburu dan tersengal-sengal, "Fran.." desisnya tertelan oleh nafasnya yang masih memburu.

Kemudian ia mulai membuka kancing bajuku sedikit tergesa dan kubantunya lalu ia mulai mengecup dadaku yang bidang seraya tangannya bergerak aktif menarik retsleting celanaku dan menariknya lepas. Langsung saja aku berdiri dan melepaskan seluruh bajuku dan kuterjang Sandra sehingga ia rebah kembali dan kujilat mulai dari perutnya. Sementara tangannya ikut mengimbangi dengan mengusap rambutku, ketika aku sampai di selangkangannya kulihat ia memakai celana berwarna dadu dan terlihat belahan tengahnya yang sedikit cekung sementara pinggirnya menonjol keluar mirip pematang sawah dan ada sedikit noda basah di tengahnya tidak terlalu luas, ada sedikit bulu hitam yang mengintip keluar dari balik celananya. Kurapatkan tungkainya lalu kutarik celana dalamnya dan kembali kurentangkan kakinya seraya aku juga melepas celanaku. Kini kami sama berbugil, kemaluanku tegang sekali dan cukup besar untuk ukuranku. Sementara Sandra sudah mengangkang lebar tapi labia mayoranya masih tertutup rapat. Kucoba membukanya dengan jari-jari tangan kiriku dan tampak sebuah lubang kecil sebesar kancing di tengahnya diliputi oleh semacam daging yang berwarna pucat demikian juga dindingnya tampak berwarna pucat walau lebih merah dibandingkan dengan bagian tengahnya. Gila, rupanya masih perawan.
Tak lama kulihat segera keluar cairan bening yang mengalir dari lubang itu oleh karena sudah tidak ada lagi hambatan mekanik yang menghalanginya untuk keluar dan banjir disertai baunya yang khas makin terasa tajam. Baru saat itu kujulurkan lidahku untuk mengusapnya perlahan dengan sedikit tekanan. "Eehh.. ach.. ach.. ehh", desahnya berkepanjangan. Sementara lidahku mencoba untuk membersihkannya namun banjir itu datang tak tertahankan. Aku kembali naik dan menindih tubuh Sandra, sementara kemaluanku menempel di selangkangannya dan aku sudah tidak tahan lagi kemudian aku mulai meremas payudara kanannya yang kenyal itu dengan kekuatan lemah yang makin lama makin kuat.

"Fran.. ambilah.." bisiknya tertahan seraya menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sementara kakinya diangkat tinggi-tinggi. Dengan tangan kanan kuarahkan torpedoku untuk menembak dengan tepat. Satu kali gagal rasanya melejit ke atas oleh karena licinnya cairan yang membanjir itu, dua kali masih gagal juga namun yang ketiga rasanya aku berhasil ketika tangan Sandra tiba-tiba memegang erat kedua pergelangan tanganku dengan erat dan desisnya seperti menahan sakit dengan bibir bawah yang ia gigit sendiri. Sementara batang kejantananku rasanya mulai memasuki liang yang sempit dan membuka sesuatu lembaran, sesaat kemudian seluruh batang kemaluanku sudah tertanam dalam liang surganya dan kaki Sandra pun sudah melingkari pinggangku dengan erat dan menahanku untuk bergerak. "Tunggu", pintanya ketika aku ingin bergerak.

Beberapa saat kemudian aku mulai bergerak mengocoknya perlahan dan kaki Sandra pun sudah turun, mulanya biasa saja dan respon yang diberikan juga masih minimal, sesaat kemudian nafasnya kembali mulai memburu dan butir-butir keringat mulai tampak di dadanya, rambutnya sudah kusut basah makin mempesona dan gerakan mengocokku mulai kutingkatkan frekuensinya dan Sandra pun mulai dapat mengimbanginya.

Makin lama gerakan kami semakin seirama. Tangannya yang pada mulanya diletakkan di dadaku kini bergerak naik dan akhirnya mengusap kepala dan punggungku. "Yach.. ach.. eehmm", desisnya berirama dan sesaat kemudian aku makin merasakan liang senggamanya makin sempit dan terasa makin menjempit kuat, gerakan tubuhnya makin liar. Tangannya sudah meremas bantal dan menarik kain sprei, sementara keringatku mulai menetes membasahi tubuhnya namun yang kunikmati saat ini adalah kenikmatan yang makin meningkat dan luar biasa, lain dari yang kurasakan selama ini melalui masturbasi. Makin cepat, cepat, cepat dan akhirnya kaki Sandra kembali mengunci punggungku dan menariknya lebih ke dalam bersamaan dengan pompaanku yang terakhir dan kami terdiam, sedetik kemudian.. "Eeegghh.." jeritannya tertahan bersamaan dengan mengalirnya cairan nikmat itu menjalar di sepanjang kemaluanku dan, "Croot.. croot", memberikannya kenikmatan yang luar biasa. Sebaliknya bagi Sandra terasa ada semprotan kuat di dalam sana dan memberikan rasa hangat yang mengalir dan berputar serasa terus menembus ke dalam tiada berujung. Selesai sudah pertempuran namun kekakuan tubuhnya masih kurasakan, demikian juga tubuhku masih kaku.
Sesaat kemudian kuraih bantal yang tersisa, kulipat jadi dua dan kuletakkan kepalaku di situ setelah sebelumnya bergeser sedikit untuk memberinya nafas agar beban tubuhku tidak menindih paru-parunya namun tetap tubuhku menindih tubuhnya. Kulihat senyum puasnya masih mengembang di bibir mungilnya dan tubuhnya terlihat mengkilap licin karena keringat kami berdua.
"Fran.. thank you", sesaat kemudian, "Ehmm.. Fran aku boleh tanya?" bisiknya perlahan.
"Ya", sahutku sambil tersenyum dan menyeka keringat yang menempel di ujung hidungnya.
"Aku.. gadis keberapa yang elu tidurin?" tanyanya setelah sempat terdiam sejenak. "Yang pertama", kataku meyakinkannya, namun Sandra mengerenyitkan alisnya. "Sungguh?" tanyanya untuk meyakinkan.
"Betul.. keperawanan elu aku ambil tapi perjakaku juga elu yang ambil", bisikku di telinganya. Sandra tersenyum manis.
"San, thank you juga", itu kata-kata terakhirku sebelum ia tidur terlelap kelelahan dengan senyum puas masih tersungging di bibir mungilnya dan batang kemaluanku juga masih belum keluar tapi aku juga ikut terlelap.
READ MORE - Dokter Jaga

Desah Selingkuhmu

Perkenalkan namaku Andi, kejadian ini terjadi sebelum aku menikah dan berkeluarga, dulu aku tinggal di kota P di bilangan Jakarta Pusat, di belakang rumahku tinggal keluarga M. Sebenarnya dia masih ada famili jauh, tapi hubungan saudaraku hanya dengan bapaknya yang sepupu dari ibuku, sedangkan Iis adalah anak yang dibawa dari istri Omku M karena dia menikahi janda teteh I dari daerah bogor.
Saat aku masih dibangku SMP hingga SMA aku suka main dirumahnya, dan karena pengaruh dari buku-buku porno dan juga film BF aku mulai berani memegang-megang bagian sensitif dari tubuh Iis, keluarga M tidak curiga karena aku masih mereka anggap saudara atau keponakan walau jauh. Dulu sering saat dia sedang menyapu aku peluk dari belakang dan meraba-raba payudaranya atau saat aku menginap aku meremas-remas tangan dan mengelus pahanya, Iis masih lugu saat itu dan hanya respon 
birahi yang dia berikan tanpa dia mengerti harus bagaimana saat itu, akupun sering beronani dan membayangkan seandainya aku bersetubuh dengannya.

3 tahun berlalu, dan kini aku bekerja diperusahaan export import, Iis pun menikah dengan W pria yang juga masih tetangganya di kota P. W adalah pria yang berpenghasilan dengan menjadi tukang ojek. Aku sudah tidak tinggal di kota P, tapi kost di daerah T yang masih dalam wilayah Jakarta juga, hal ini agar dekat dengan tempat aku bekerja. Saat itu aku sedang dinas luar, dan karena kebetulan lewat daerah P, maka aku sempatkan mampir kerumah Om M untuk sekedar beristirahat sebentar, ternyata Om M sedang kerja dan teteh I sedang menunggu warung nasinya, yang ada hanya adik Om M yang tuna rungu atau bisu. Saat itu pernikahan Iis baru 1 tahun, saat aku datang dia sedang menonton sinetron di televisi dan mengenak daster tanpa lengan.

"Hai Is.. Apa kabar?" sapaku.
"Eh Andi.. Lama ngga keliatan, ayo masuk.. Tumben, ada apa nih?" sahutnya lembut.
"Kebetulan aku lewat sini jadi sekalian mampir" jawabku.

Dia membuka lemari es dan memberikanku segelas air dingin, setengah jam kemudian dari mulutnya meluncur cerita tentang W sang suami, dulu suaminya itu tukang jajan ke tempat prostitusi dan jika berhubungan intimpun hanya sebentar.. Kadang penisnyapun tidak mau ereksi. Aku mendengarkan ceritanya dengan santai, dan akhirnya dia mengatakan soal aku dan dia dulu yang membuat jantungku berdegup keras.

"Jadi ingat dulu ya di? Saat kita masih.."

Kujentikkan jariku dimulutnya agar tidak meneruskan kalimatnya dan secara spontan kuremas jemari tangannya, dan kulumat bibirnya dengan penuh bernafsu serta kupeluk tubuhnya erat. Iis melenguh tanda birahinya juga mulai memuncak.

"Arghh.. Di.. Ohh.."

Peniskupun sudah sangat tegang seakan akan loncat dari tempatnya dibalik celana panjang kerjaku. Kini kuarahkan lidahku ke lehernya, kemudian turun kebelahan dadanya, isis makin mendesah hebat dan reflek tangannya membuka reluiting celanaku dan mencari penisku yang sudah menegang keras. Dikocoknya penisku lembut dan perlahan, rasa nikmat menjalar diseluruh tubuhku. Kubuka tali dasternya dan kini Iis hanya mengenakan bra dan celana dalamnya saja..

Sedangkan jari jemari Iis mulai melepas kemejaku, dan dengan lihai dia melepas celana panjangku, ku buka bra yang menutupi payudaranya yang masih terhitung kencang karena Iis belum mempunyai anak, kujilati dan kuremas pelan kedua bukit indahnya itu..

"Shh.. Andi.. Oh.. Andi.. Sayanng.. Enaak.. Ahh" desahannya membuat libidoku makin meninggi dan meledak-ledak.
"Ka.. Mu.. Sek.. Si iss.. Ssh.." ucapku terputus-putus karena gelegak birahi yang meletup-letup.

Rasa penasaranku pada saat aku masih duduk dibangku dibangku sekolah harus kutuntaskan, toh dia kini sudah ada yang punya, pikirku. Aku tak membuang banyak waktu, kulepaskan celana dalamnya yang berwarna putih dan kulepaskan juga celana dalamku, hingga penisku kini berdiri tegang bebas dan siap menuju lubang surgawi milik Iis..

Kuarahkan mulutku keliang vaginanya.. Lalu mulai kujilati vaginanya yang sudah basah karena dia sudah mengalami birahi yangs angat tinggi, dan sesekali kuhisap itilnya yang kemerahan.

"Uff.. Andi.. Ka.. Mu apakan me.. Mek iiss.. Akh.. Bang W tidak per.. Nah lakukan ini.. Ouh.. Ssh.. Arghh"

Iis mulai meracau, mungkin suaminya karena dulunya sering jajan diluar makanya jarang atau bahkan tidak mengerti apa itu foreplay. Kesempatan.. bathinku..

Jilatanku makin menggila dan Iis mengoyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan pertanda dia sudah lupa diri dan lupa segala-galanya bahwa kini statusnya adalah istri W.

"Ohh.. Andii.. Iis.. Ga tahaan.. Masukiin doong.. Pleasee.. Ahh.. Masukin kontolmu di.. Ahh.."

Kulihat Iis sudah tidak sabar lagi untuk menggapai orgasme dan membuka vaginanya lebar-lebar dengan melebarkan kedua kakinya.. Kuhujamkan penisku ke memeknya yang sudah basah.. Lebih mudah bagi penisku dan langsung masuk kedalam vaginanya..

"Oughh.. Arghh.. Ohh.. Kontol Andi enak.. Ahh.. Coba da.. Ri du.. Lu ann.. Ohh"

Iis meracau tak karuan, kugenjot penisku keluar masuk liang surgawinya dan lambat laun makin cepat dan cepat, sehingga menimbulakn suara "Plokk.. Plok.." diseluruh ruangan..30menit berlalu kuhujamkan penisku kedalam liang surgawinya, tiba-tiba.. Memeknya menjepit keras penisku dan dia memmeluk erat serta menggigit putingku.. Rupanya dia sebentar lagi akan orgasme.. Kupacu penisku lebih cepat dan tubuhnya menggelepar-gelepar karena nikmat.

"Andii.. Iis ke.. Lu.. Arr.."
"Iya.. Sayang.. Aku juga.. Sebeenn.. Tar lagii" ucapku menderu..

Karena penisku juga sudah mengeras dan berdenyut-denyut siap memuntahkan laharnya..

"Iiss.. Ohh.. Aku.. Juga.. Ke.. Luarr..".

Tubuhku ambruk didadanya, dengan tubuh berkeringat kuelus payudaranya dan kucium bibirnya..

"Is.. Barang kamu enak.."..
"Barang kamu juga di.. Ahh.." sahut Iis lemas tak berdaya.

Tanpa kami sadari ada sepasang mata mengawasi dari tadi, bahkan mungkin dari awal, kulirik ruangan sebelah yang hanya tertutup tirai, kulihat disebelahku Iis sudah tertidur pulas karena kelelahan, kuhampiri orang yang mengintipku sejak tadi, ternyata dia adalah adik omku M yang bisu, tanpa sehelai benangpun kuhampiri dia, adik omku ini bertubuh agak gemuk dan kulitnya agak kecoklatan, dia hanya menatap penisku yang kini sudah mulai kembali tegang. Kutunjuk dengan jari kearah penisku dengan maksud apakah dia menginginkan ini juga seeprti yang dilihatnya tadi.

Kuraih tangannya untuk memegang penisku, tangannya gemetar karena aku tahu pasti dia belum pernah disentuh laki-laki apalagi diraba, aku takut ada orang lain lagi yang datang dan ada mata lain yang menangkap basah perbuatanku ini, maka segera kubuka bajunya dan seluruh pakaian dalamnya, kusedot dan kuhisap payudaranya dan kumasukkan jariku ke dalam vaginannya..

"Uhh.. Mphh.. Shh" Mbak M mulai keenakan karena mungkin dia sudah horny dari tadi melihat adeganku dengan Iis, kuhujamkan penisku agak keras kelubangnya yang masih virgin alias perawan, kututup mulutnya agar tidak berteriak atau mengeluarkan suara keras, hingga membangunkan Iis atau terdengar oleh yang lain.

Kugenjot makin cepat dan cepat, Mbak M kusuruh menungging dan tangannya berpegangan pada bibir ranjang, kugenjot penisku keluar masuk, tiba-tiba dia berbalik lalu denga ganasnya memegang penisku untuk dimasukkannya ke memeknya dari depan lalu mengajakku jatuh keranjangnya, kugenjot lagi dia dengan posisi normal seperti yang dia inginkan..

"Mph.. Argh.. Uhh.. Ah.. Akhh" karena bisu dia tidak bsia mengatakan akan orgasme atau keluar, maka dia memeluk erat dan menggigit leherku lalu terkulai lemas dengan mata terpejam, aku harus orgasme juga dengannya, pikirku..

Tidak perduli dia sudah terkulai lemas dan memejamkan mata, kugenjot dia cepat dan penisku mulai berdenyut-denyut agak lama kini aku mengalami orgasme, karena sepengetahuanku, jika pada permainan kedua laki-laki akan mempunyai daya tahan yang agak lama. Nafasku mulai membur dan sambil kugenjot memek Mbak M yang sudah basah itu kucumbui bibirnya walaupun Mbak M tidak merespon atau mungkin tidak tahu bagaimana cara berciuman.

"ssh.. Mbak.. Aku mau munn.. Cratt.. Arghh" kutumpahkan spermaku didalam liang vaginanya yang hangat..

Ahh.. Nikmat sekali istirahatku siang ini.. Kukenakan pakaianku dan kubangunkan Iis untuk berpamitan, sambil kubisikkan padanya.

"Lain kali kita ketemu diluar ya?" Iis hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.

Pada cerita terdahulu aku sudah menceritakan pengalaman bagaimana perselingkuhanku dengan Iis dan juga sekaligus adik pamanku Mbak M, setelah kejadian itu aku dan Iis beberapa kali bertemu di hotel dan mengulang serta mereguk dahaga akan seks diantara kami berdua, sampai akhirnya setahun aku tidak bertemu dengannya lagi. Kudengar kini Iis sudah mempunyai seorang anak dari pernikahannya dengan W.

Entah kenapa sejak pagi ini aku terus memikirkan Iis, rasa rindu untuk bersetubuh lagi dengannya begitu kuat dan menggebu, hingga akhirnya kuberanikan diri kembali untuk datang ke rumahnya siang ini disela waktu kerjaku. Kuketuk pintu beberapa kali, seperti biasa rumah itu terlihat lengang dan sepi. Agak lama aku menunggu di muka pintu sampai akhirnya pintu terbuka dan yang membukakannya adalah Imah adik Iis, perlu juga aku ceritakan bahwa Omku MJ menikah dengan seorang wanita ynag sudah menjanda 2 kali yaitu teteh I dan dia membawa 2 orang anak yaitu Iis dan Imah dan keduanya berlainan bapak.

"Eh Kak andi, sudah lama nggak ketemu.. Masuk Kak," ucap Imah seraya membuka pintu.

Suasana rumah persis seperti dulu aku datang lenggang dan sepi.

"Pada ke mana Mah?" ucapku basa-basi.
"Mama jaga warung, Papa kerja.." jawab Imah, "Engg.. Kalo Kak Iis?" tanyaku lagi cepat.
"Kak Iis sudah nggak tinggal disini, dia ngontrak dengan Om W di kota T," lanjutnya.

Ada rasa kecewa dihatiku karena segala hasrat dan pikiran kotorku sejak pagi ini tidak kesampaian. Imah adalah gadis yang beranjak dewasa, tubuhnya ramping dan agak kecil. Tapi kulitnya benar-benar putih mulus dan bibirnya merah merekah yang membuat lelaki manapun akan gemas melihatnya. Saat itu Imah hanya mengenakan kaos you can see/kaos tanpa lengan dan celana pendek olahraga yang sangat pendek dan minim. Sempat aku menelan ludah melihat pahanya yang mulus dan menantang itu, tapi aku berusahan sebisa mungkin menahan gejolak nafsu yang sejak pagi ini begitu menggebu.

"Imah masih sekolah ya?" tanyaku untuk menghilangkan kegalauan.
"Ihh.. Enak aja, makanya Kak Andi sering-sering main dong ke sini, sekarang Imah sudah kerja tauu.." ucapnya dengan gaya manja.
"Oh ya? Wah nona Imah yang cantik ini sudah besar rupanya ya?" lanjutku.

Kulihat Imah tersipu malu, terlihat dari wajah putihnya yang merona merah. Entah keberanian dari mana, tiba-tiba kata-kata ini meluncur dari mulutku, "Imah.. Sekarang kamu bener-bener cantik dan sexy deh.." ucapku sambil menelan ludah.
"Ihh.. Kak Andi gombal ah.." balasnya seraya tertawa renyah dan mencubit pahaku.
"Ehh... Berani nyubit Kak Andi ya? Sakit tau.." jawabku sambil pura-pura menunjukkan rona muka kesakitan.
Kukejar dia yang mencoba menghindar dan berlari kecil dariku. Tiba-tiba Imah terjatuh di karpet ruang tamu karena tersandung pinggiran sofa, akupun tidak kehabisan akal, kuikuti dia dan ikut pula pura-pura terjatuh dan menindih tubuhnya yang telentang di karpet ruang tamu. Tubuhku merapat dengan tubuhnya, dadanya yang tidak terlalu besar tapi sexy itu naik turun seakan menahan gejolak, bagi gadis remaja yang mulai beranjak dewasa itu.
Kupandangi mata dan bibirnya yang merakah itu, spontan saja kubelai lembut rambut dan keningnya, tidak ada gerakan penolakan darinya.. Bahkan ketika kucium bibirnya dan melumatnya dengan penuh bernafsu.. Imah tidak menolak, bahkan melayani pagutan demipagutan bibirku. Lidah kami slaing mnejelajah dan nafas kami berdua mulai tak teratur, dan terdengar menderu terpacu birahi. Tanganku bergerilya dibalik kaosnya, dengan lihai kubuka ikatan tali bra miliknya yang menutupi kedua buah dadanya.

Terasa detak jantung Imah berdegup keras, mungkin dia belum pernah diperlukan seperti ini oleh lelaki ataupun pacar-pacarnya dulu. Kuangkat kaosnya sebagian keatas, hingga kini buah dadanya terlihat jelas dipelupuk mataku, sambil terus kupagut bibirnya, kuremas lembut payudaranya dari bawah sampai puncak putingnya. Imah menggelinjang hebat dan mulai mendesah hebat sambil memejamkan matanya..

"Ahh.. Kak.. Ann.. Ouhh" desahnya membuat libidoku makin meninggi.

Lalu lidahku turun kelehernya.. Kebelahan dadanya.. Dan akhirnya kujilati dan kusedot teteknya yang mulai mengeras.

"Arghh.. Kakk.. Ughh.. Mphh.." Imah mendesah penuh nimat, sambil terus kujilat dan kusedot putingnya, kubuka celana pendeknya, hingga Imah hanya mengenakan celana dalamnya saja yang berwarna biru. Kuraba permukaan vaginanya yang masih tetutup CD, kuremas-remas pelan dan kusodok-sodok dengan jari jemariku yang lihai menggerayangi mekynya.

"Uhh.. Kak.. An.. Di.. Ahh.. Aduhh.. Kak.. Kok. Gi.. Ni sih ahh.. E.. Nakk.. Ohh.." Imah sudah mulai meracau tak kuasa menahan nikmat yang menghinggapi sekujur tubuhnya. Kubuka celana panjangku dan kutuntun tangannya untuk menggengam penisku., kugerakkan tanganya agar membuat gerakan mengocok penisku yang sudah begitu snagat tegang dan tak sabar ingin meraih kenikmatan.

Kulepaskan celana dalamnya, yang tertinggal kini hanya mey-nya yang ditumbuhi bulu-bulu halus dipermukaannya. Kuarah lidahku ke liang kewanitaannya, Imah terhenyak kaget dan matanya terbelalak, karena seumur hidup dia belum pernah diperlakukan seperti ini padanya.

"Kakk.., Uhh.. Ge.. Lii.. Ahh.. Kak.. Andi.. Mphh.. Geli.. Uohh.. Enak.. Me.. Mek Imah.. Ahh.." racau Imah tidak karuan, memeknya mulai basah pertanda birahinya sudah sangat memuncak. Kuarahkan penisku keliang vaginanya, sempit dan tertahan sesuatu..

"Kakk.. Arghh.. Sa.. Kiit.. Imah.. Takut Kak.." ujarnya terputus-putus antara sakit dan nimat.
"Takut apa Mah?" ucapku masih dengan nafas menderu.
"Imah takut hamil kakak.." ujarnya lagi.
"Kalau hanya sesekali tidak akan hamil Mah.." rayuku karena nafsuku sudah begitu membludak, diotakku hanya berkata bahwa hari ini aku harus mereguk kepuasan dari gadis ramping dan mulus ini.
"Ja.. Ngan disini Kak.. Imah takt.. Nan.. Ti ada orang.." nafasnya masih tak teratur.
"Jadi Imah mau kita ke hotel? Emangnya Imah nggak kerja?" lanjutku.
Imah menggeleng, "Imah lagi off Kak.." karena dia bekerja sebagai SPG di sebuah mall makanya liburnya justru pada saat hari kerja.

Kupacu motorku kedaerah menteng, dan kucari hotel yang bertaraf sedang, tidak terlalu mewah tapi cukup untuk berdua tuntaskan hasrat, dalam hati aku tertawa, gila.. Dulu hotel ini kupakai bersama Iis, kini dengan Imah adiknya walau mereka berasal dari dua bapak yang berbeda. Kuparkir motorku dan bergegas menuju resepsionis, agak tergesa memang, karena nafsuku yang sempat membludak tadi menjadi tertunda.

Sesampai dikamar hotel kulumat rakus bibirnya dan smabil dengan posisi berdiri kami tanggalkan semua pakaian yang melekat ditubuh kami. Bagai dua orang yang sangat haus dan lapar akan seks, kami berdua saling bercumbu dan berguling diranjang hotel yang empuk, kini Imah benar-benar meluapkan nafsunya karena sudah tidak ada lagi rasa khawatir di didrinya akna ada orang yang melihat. Kujilati tetenya yang mengeras dan kusedot putingnya membuat Imah mendesah dan meracau sejadi-jadinya.

"Kakaak An.. dii ahh.. Teruuss.. Terussiin kaka.. Auhh.. Imahh enakk nihh.." Imah menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan benar-benar kewalahan akan seks dan kenikmatan yang baru direguknya.

Kujilati memeknya yang basah oleh cairan, kujelajahi liang surgawinya dengan lidahku dan sesekali menghisap dan menggigit kecil klitorisnya, tubuhnya menggelepar.. Tanganya meremas rambutku dan Imah menggigit bibirnya saking nikmatnya. 10 menit berlalu dan jilatanku pada memeknya makin liar dan menjadi-jadi. Tiba-tiba tubuhnya mengejang, tangannya mencengkram rambutku begitu kuat, setengah histeris Imahh berteriak dan mendesis..

"Ahh.. Kaa.. Imaahh.. Ke.. Luarr.. Ahh.."

Lalu semenit kemudian tubuhnya lunglai dan terkulai lemas diranjang. Kubiarkan Imah menikamti orgasmenya.. Kujilati tetenya dan sesekali kuciumi bibirnya, sampai akhirnya libidonya kembali bangkit. Kuarahkan penisku kemulutnya, Imah sempat menggelemg tidak mau melakukannya.

"Imah belum.. Pernah Kak.." ucapnya pelan.
Aku tersenyum dan berkata, "Pelan-pelan Mah.. Kak Andi ajari.."

Pertama Imah mengoral penisku terasa giginya mengenai batang penisku dan membuat ngilu, tapi 5 menit kemudian dia sudah lihai dan benar-benar pandai mengocok penisku dimulutnya.. Penisku makin mengeras dan Imah makin ketagihan dan makin cepat mengocok penisku didalam mulutnya, aku mengerang penuh nikmat..

"Arghh.. Imah.. Oh.. Ka.. Mu pintarr.. Sayaang.. Ohh.. Iya teruss.. Enaak.." racauku.

Kukeluarkan penisku dari mulutnya, lalu kuarahkan pada vagina yang sudah licin setelah orgasmenya yang pertama tadi, kini penisku setengah masuk ke memeknya..

"Ouh.. Maasih.. Sa.. Kit Kak..". ucap Imah denga wajah meringis..

Kutarik keluar pelan-pelan.. Lalu kuhujamkan lagi lembut, makin lama penisku makin terbenam kedalam liang memeknya yang sempit.. Dan ketika kurasa tinggal sedikit lagi kutekan agak keras..

"Ahh.. Kakk.. Imah setengah menjerit"

Karena kaget ketika seluruh penisku amblas didalam liangnya. Kumaju mundurkan pantatku, dan terdengar suara decakan dari liang surgawinya, kugoyang sedikit penisku sehingga membuat memek Imah berdenyut-denyut.

"Ahh.. Kakakk.. Enaak.. Kak.. Benerr.. Dehh.. Uhh.. Teruss.. Imah.. Inginn.. Ini.. Teruss.. Ahh," racau Imah lagi.

Kugenjot makin cepat.. Cepat dan cepat..

"Imahh.. Ohh.. Memekmu sempit mah.. Uhh.. Nikmatt" desahku ke enakan..
"Kak andi.. Ihh.. Kok ginii sihh.. Enakk bangett.. Ahh.. Imahh nggak tahaan nih.. Kakk.." Imah mendesah hebat.
Genjotan penisku di liang memeknya makin menggila dan kurasakan penisku mulai berdenyut-denyut siap memuntahkan sprema. Tubuh Imah bergetar dan mengejang hebat..

"Kakk.. Ahh.. Teruss.. Dikiit lagi.. Imahh mau.. Keluarr lagii.. Ouhh," desah Imah panjang mengiringi orgasmenya.

Akupun ingin tuntaskan permainanku dan mencapai orgasme.. Aku menggeram hebat dan nafasku makin menderu..

"Aku.. Ju.. Ga.. Ma.. Uu.. Keluarr Mahh.. Arhh"

Tubuhku terkulai lemas diatas tubunya, kami bersimbah peluh dan saling tersenyum penuh nikmat. Kamipun melakukannya lagi dan benar-benar memuaskan dahaga seks kami berdua hingga siang berganti malam.
READ MORE - Desah Selingkuhmu
.
 

Mengenai Saya

Most Reading

Diberdayakan oleh Blogger.